Perbedaan PAL Dan NTSC Pada DSLR/Mirrorless: Apa Fungsinya dan Apa Pengaruhnya?

Pada hampir semua jenis kamera, termasuk DSLR atau Mirrorless, selalu ada setting-an PAL dan NTSC.

Setting-an ini umumnya tidak tersentuh oleh kebanyakan orang. Karena toh tampak tidak ada pengaruhnya pada hasil rekaman.

Dan memang betul, setting ini tidak akan berpengaruh pada hasilnya! Kamu tidak akan bisa membedakan: mana PAL, mana NTSC.

Tapi sadarkah kamu, bahwa memilih PAL atau NTSC pada kamera akan membatasi pilihan frame rate?

Misalnya, kalau kamera kamu dalam mode PAL, maka tidak akan ada pilihan 30 fps dan 60 fps. Sedangkan kalau kamu dalam mode NTSC, tidak akan ada pilihan 25 fps dan 50 fps.

Dan tahukah kamu bahwa secara default, kamera akan memilih salah satu dari dua mode ini tergantung di negara mana kamera itu dikeluarkan?

Supaya kamu tahu apa pentingnya dan apa adanya pengaruhnya dari dua setting-an ini, yuk kita ulas sedikit lebih dalam!

Mengikuti Standar Tayangan Di Suatu Negara

PAL (Phase Alternating Lines) dan NTSC (National Television System Committee) adalah dua standar tayangan yang berlaku pada suatu negara.

PAL dan NTSC akan mengatur beberapa ketentuan (seperti frame rate dan resolusi) yang harus dipatuhi ketika sebuah tayangan (video) dibroadcast.

Indonesia misalnya menganut standar PAL. Salah satu ketentuannya adalah menggunakan frame rate 25 fps.

Maka kalau kamu membeli kamera di Indonesia, bisa dipastikan secara default kamera tersebut akan ada dalam mode PAL. Dan seharusnya kamu tidak mengubahnya ke dalam mode NTSC.

Dan jangan heran kalau kamu tidak menemukan pilihan frame rate 30 atau 60 fps, karena kamera membatasinya supaya kamu patuh pada ketentuan itu.

Sadarkah kamu bahwa semua tayangan Youtube yang berasal dari luar, rata-rata menggunakan frame rate 30 fps (atau 29,97 fps)?

Mengapa?

Karena kebanyakan Youtuber luar didominasi Amerika. Dan Amerika menggunakan standar NTSC, yang menggunakan standar frame rate 30 fps.

Tidak ada pilihan 1920 x 1080 25 (fps), karena kamera ini dalam mode NTSC

Bagaimana kalau melanggar?

Yang pasti kamu tidak akan didatangi polisi kalau kamu menggunakan NTSC, hehe.

Tidak ada salahnya kamu menggunakan 30 fps, lalu meng-upload-nya ke Youtube atau sosmed. Tidak akan ada pengaruhnya.

Yang menjadi masalah adalah kalau kamu membuat video untuk kepentingan yang lebih besar.

Misalnya untuk ditayangkan di TV.

Perusahaan televisi mempunyai bagian QC (Quality Control). Mereka harus patuh pada ketentuan PAL. Maka kamu harus menggunakan frame rate 25 fps. Kalau tidak, mereka berhak menolaknya.

Begitu pun kalau kamu disewa untuk menjadi videografer di negara lain. Sebaiknya kamu tahu apa standar-nya, PAL atau NTSC. Dan patuhi itu! Jangan sampai kamu kena komplain.

Dulu, sewaktu masih analog, bahkan lebih ketat. Sebuah kaset (karena pada waktu itu medianya hanya kaset) tidak bisa memuat dua format sekaligus. Jika kaset sudah diformat NTSC, maka video dalam format PAL tidak akan bisa masuk. VTR-nya (pemutar kaset) menolak untuk melakukan recording.

Tapi, sekalipun bukan untuk TV, untuk tujuan normal pun sebaiknya kamu tetap mengikuti standar ini (menggunakan frame rate 25 fps).

Ibarat berkendara.. sekalipun tidak di jalan raya, bukankah kamu harus tetap ada di kiri dan memakai helm? Ini membuktikan kalau kamu taat aturan, hehe.

Bagaimana dengan 24 fps?

24 fps tidak masuk ke dalam standar PAL atau NTSC.

24 fps adalah standar film atau sinema.

Karena itu banyak kamera menyertakan 24 fps baik dalam mode PAL maupun NTSC.

Disediakan untuk.. siapa tahu kamu mau mengikuti standar film.

Dan kebanyakan videografer memilih frame rate ini. Katanya lebih ‘cinematic’ (padahal tidak sekedar karena frame rate).

Mirrorless keluaran Sony umumnya hanya menyertakan 24 fps dalam mode NTSC.

Bagaimana dengan frame rate 50, 60, dan 120 fps?

Kalau kamu menggunakan frame rate 50, 60, atau 120 fps.. pastikan tujuannya cuma satu: untuk slowmotion. Karena kamera menyediakannya memang untuk itu.

Dalam model PAL misalnya, selain 25 fps, DSLR menyediakan frame rate yang 2x nya, yaitu 50 fps. Sehingga ada dua pilihan dalam mode PAL: 25 fps dan 50 fps.

Tujuannya.. supaya ketika kamu menggunakan sequence PAL di editing, yang 50 fps ini bisa dilambatkan 50%, sehingga tepat menjadi 25 fps. Dan gerakannya pun melambat 2x nya tanpa kehilangan frame, dan gerakannya tetap halus.

Begitupun dengan NTSC, ada dua pilihan: 30 fps dan 60 fps (=2x 30 fps).

Intinya, kamera menyediakan berbagai pilihan frame rate sesuai fungsinya dan standar-nya. Dan kamu seharusnya tahu sebelum syuting: akan tayang di mana dan standar nya apa. Dengan begitu kamu tidak salah setting kamera.

Video ini direkam dalam 50 fps, dan sequence menggunakan standar 25 fps. Ketika di-slowmo 50%, frame rate menjadi 25 fps sama dengan sequence, namun gerakan menjadi lambat 2x nya.

Apakah NTSC dan PAL bedanya hanya di frame rate?

Tidak!

Resolusi pun ada ketentuannya.

Untuk Full HD (disebut dengan standar HDTV), baik PAL maupun NTSC, dua-duanya menggunakan resolusi 1920 x 1080 piksel.

Karena kesamaan resolusi itulah, orang mengenal bedanya PAL dan NTSC hanya dari frame rate nya saja: 25 atau 30.

HDTV (High Definition TV) adalah istilah untuk format TV dalam resolusi Full HD. Saat ini sudah bisa dinikmati penonton TV dengan memilih siaran digital, dengan syarat TV-nya mampu menangkap siaran digital (berlogo DVB-T2). Stasiun TV yang menayangkan dalam resolusi Full HD ini biasanya mencantumkan logo “HD” di pojok kanan atas.

Selain itu, sebenarnya PAL dan NTSC menggunakan jenis frame rate interlace, bukan progressive. Maka kamu akan menemukan huruf “i” di beberapa kamera pada pilihan frame rate nya, seperti “50i” untuk PAL dan “60i” untuk NTSC (i=interlace, p=progressive).

Tapi interlace hanya khusus untuk yang benar-benar tayang di TV.

Karena sekarang era nya digital, dimana hampir semua monitor bersifat progressive dan kebanyakan kamera tidak didedikasikan untuk TV.. maka interlace ini bisa diabaikan. Kamu lebih baik pilih progressive saja (25p untuk PAL).

Baca Perbedaan Interlace dan Progressive.

Apa pengaruhnya mencampurkan PAL dan NTSC di editing?

Tergantung software editingnya, dan tergantung spek-nya.

Final Cut Pro 7 misalnya.. menggunakan frame rate yang berbeda di dalam satu sequence bisa menimbulkan masalah. Beberapa mengalami tidak akuratnya gambar yang dipilih ketika masuk di timeline editing, beberapa mengalami ‘error’ ketika di render.

Maka, pengguna FCP 7 biasanya melakukan convert pada semua materi agar formatnya sama. Kalau sequence-nya PAL (1920 x 1080, 25 fps), maka semuanya harus PAL.

Tapi untuk Adobe Premiere, umumnya lebih aman.

Namun sekali lagi..

Sedari awal, dari mulai setting kamera, sebaiknya kamu patuh pada standar PAL. Supaya ketika diedit di dalam sequence PAL, semuanya match. Dengan begitu software editing akan lebih ringan, dan kamu ngedit lebih lancar.

Leave a Reply