FAJAR BARU FILM LAGA INDONESIA

Salah satu genre yang memiliki fans terbanyak di kalangan pecinta film seluruh dunia. Film-film penguras adrenalin lewat adegan baku hantam & baku tembak ini tak terhitung banyaknya memuncaki box office selama berminggu-minggu. Beragam film kita kenal seperti serial James Bond, Mission Impossible, Rambo, Bourne, The Expendables, dsb. produksi Hollywood. Ip Man, Police Story, Once Upon A Time In China, dsb. produksi Hongkong. Untuk level nasional (dulu) siapa yang tak kenal Saur Sepuh & Misteri Gunung Merapi, misalnya. Tentu harus menyebut pula film fenomenal The Raid & The Raid 2. the-raid

Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Li, Sylvester Stallone, Jean Claude Van Damme, Barry Prima, Advent Bangun, Iko Uwais, Yayan Ruhian, adalah sebagian kecil dari ratusan nama besar dari genre ini yang pasti fasih pula disebut oleh mereka yang tak menyukai genre laga sekalipun.

 

KLISE & LOW QUALITY?

Sebagian kalangan sempat memandang genre laga dengan sebelah mata. Bagi mereka, banyak film laga terasa ‘dangkal’ disebabkan oleh minimnya kualitas cerita. Seolah semua masalah kehidupan bisa diselesaikan hanya dengan keterampilan bela diri & baku tembak. Jujur, untuk sebagian film tak terlalu bisa disalahkan juga anggapan demikian. Khususnya terhadap film-film laga ‘kelas B’ & sebagian film produksi 80an kebawah. Biasanya berkisah tentang perjuangan tokoh utama yang mengalahkan kelompok penjahat atas dasar dendam. 1 atau segelintir orang mengalahkan penjahat bersenjata lengkap yang jumlahnya jauh lebih banyak. Klise, & terkadang mengalahkan logika.

Tapi harus diakui bahwa seiring perkembangan zaman, akhir-akhir ini semakin banyak film-film laga dengan balutan cerita yang berkualitas. Trilogi Batman karya Christopher Nolan misalnya. Film superhero favorit anak-anak tersebut malah jadi tak layak tonton untuk anak-anak saking rumit & kelamnya cerita, disamping kerasnya adegan laga yang ditampilkan. Atau film legendaris The Lord of The Rings penyabet total 17 piala Oscar yang diangkat dari kisah panjang nan rumit. Dsb..

 

JATUH BANGUN

Lantas, bagaimana dengan film laga lokal?

Senada dengan perkembangan film nasional secara umum, film laga pun mengalami siklus jatuh & bangun. Sempat mengalami kejayaan di dekade 70- 80an, hancur di dekade 90-awal – 2000an seiring lesunya perfilman nasional, untuk kemudian mulai bangkit seiring meledaknya film The Raid di tahun 2012.the-raid2

Untuk menilai perkembangan film laga nasional ini secara lebih utuh, ada baiknya kita sedikit flashback ke masa lalu.

Dunia film laga nasional bisa dibilang mencapai puncak keemasannya di era 70-80an, dengan bintang-bintang seperti Barry Prima, Advent Bangun & George Rudy.

Lewat rumah-rumah produksi seperti Rapi Films & Parkit Films, mereka sukses membintangi lebih dari 50an judul film. Kalau dirata-rata, 3-4 film setiap tahunnya dengan antrian penonton yang hampir selalu mengular didepan loket.

Tak boleh lupa menyebut serial Saur Sepuh dari PH Kanta Indah Film & Misteri Gunung Merapi dengan bintang-bintang seperti Fendy Pradana, Elly Ermawatie, Murti Sari Dewi, dsb. Film yang diangkat dari drama radio populer ini menjadi box office berminggu-minggu lamanya dengan penonton dari anak-anak sampai orang tua.

Saya ingat saat menonton film ini semasa duduk di bangku sekolah dasar, sampai harus berdiri karena tak kebagian tempat duduk di bioskop. 😛

Luar biasa ya !?

Bila dibandingkan dengan film nasional saat ini, situasi saat itu sungguh membuat iri. Betapa hebatnya kemapanan film nasional yang bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Seiring kebangkitan film nasional dari mati surinya di tahun 90an, mulai dekade 2000an dunia perfilman nasional kembali diwarnai film-film laga. Sebagian yang tampil menonjol misalnya Pukulan Maut, Duel: The Last Choice, Gangster, 3, Comic 8 (laga-komedi), Garuda Superhero, Merantau, Serigala Terakhir, Gending Sriwijaya, The Raid: Serbuan Maut, The Raid 2: Berandal, Killers, Pendekar Tongkat Emas (PTE), dsb.

4 judul terakhir malah menorehkan kesan mendalam di benak pecinta film, dikarenakan prestasi & kualitasnya. Baik kualitas penceritaan, artistik, serta tentu kedahsyatan koreografi adegan laganya.

(catatan: memang PTE mengundang banyak kritik karena dianggap masih jauh dari harapan para perindu film laga yang seru. Akan tetapi secara obyektif tetap harus diakui & dihargai bahwa produksi Miles ini adalah sebuah karya yang artistik & berkelas. Para kritikuslah yang seharusnya menahan diri untuk tak ‘membantai’ sebuah karya dari orang-orang yang berniat baik & bekerja keras memajukan perfilman nasional. Kenapa tak mengkritik film-film horor dewasa yang banyak tumbuh bak cendawan di musim hujan saja?)

 

FAJAR BARU

PTE

Pendekar Tongkat Emas

Para pecinta film laga nasional nampaknya boleh menggantungkan harapan tinggi saat ini. Setidaknya ada 4 hal yang membuat kita boleh optimis:

  1. Kualitas Cerita

Para produsen film nampaknya semakin menyadari bahwa tingkat pendidikan rata-rata penonton semakin tinggi, pun semakin banyaknya film dari mancanegara sebagai pembanding, sehingga masyarakat tak lagi puas disuguhi kisah-kisah dengan formula lama yang klise & sederhana sehingga mudah ditebak akhir ceritanya. Produser & penulis mulai meramu kisah dengan jalinan yang lebih kompleks & ending yang mengejutkan. The Raid contohnya. Tak sekedar penyerbuan ke sarang penjahat & selesai saat pimpinannya terbunuh, namun ternyata kemudian terungkap bahwa salah satu anggota polisi adalah pengkhianat, yang membuka kisah persekongkolan yang lebih besar. Hal ini tentu menambah level kualitas film, yang mengundang lebih banyak penonton yang penasaran dengan kelanjutan ceritanya untuk menyaksikan (di bioskop).

Memang masih ada yang setia dengan formula kisah lama seperti PTE: orang terkasih dibunuh, lalu keluarga/murid membalas dendam. Namun itu ‘terbayar’ oleh penyisipan muatan filosofis dalam cerita, juga penggarapan serius di aspek-aspek lain seperti artistik & koreografi laga sehingga film tersebut jauh dari kesan kacangan.

  1. Koreografi Laga

The Raid tanpa terduga berhasil menggegerkan tak hanya dunia perfilman nasional, tapi juga dunia (!) lewat aksi tarung yang memukau & nonstop di hampir sepanjang film. Didukung puluhan atlet beladiri & stuntman profesional, tersaji adegan laga yang jarang ditampilkan di film-film sejenis. Sangat keras, brutal, dan lama durasinya. Betul-betul memuaskan pecinta film laga. Memang di satu sisi mengundang kritik karena dianggap berlebihan mengumbar kesadisan & darah. Ada pihak yang pro & kontra. Namun apapun itu, bisa dijadikan bahan introspeksi kelak. Yang penting, hal yang ditampilkan The Raid ini bisa dbilang ‘menaikkan level’ genre laga Indonesia. Membuat para filmmaker mau tak mau harus berpikir 2 kali untuk sekedar menampilkan koreografi laga yang biasa-biasa saja.

Mira Lesmana membuat gebrakan yang tak kalah mengagumkan, dengan menyewa koreografer laga asing saat memproduksi Pendekar Tongkat Emas. Xiong Xin Xin, salah satu maestro laga dari negara penghasil film-film laga dunia, Hongkong. Tentu bukan hal yang murah. Namun, sangat sepadan melihat hasilnya. Reza Rahadian dkk. menyuguhkan adu jurus yang sangat indah untuk dinikmati di film yang berlokasi syuting di tanah Sumba Timur ini. Rasanya hampir seperti menyaksikan film-film Jet Li atau Donnie Yen yang kelas dunia itu..

  1. Dana Produksi

25 Milyar! Itu jumlah dana yang dialokasikan Mira Lesmana dkk. untuk memproduksi PTE. Salah satu yang terbesar dalam sejarah perfilman Indonesia. Apakah perlu? Tentu! Demi kualitas.

Walaupun belum tentu untung mengingat sampai akhir 2014 PTE ini hanya meraup penjualan sebanyak 191.969 lembar tiket (data dari soulofjakarta.com yang dikutip dari Filmindonesia.or.id,), namun rasanya tak bijaksana kalau kita melihat segalanya dari profit semata. Memang, unsur komersil adalah krusial dalam produksi film. Namun apa jadinya bila demi keuntungan berlimpah lantas semua film rela memangkas kualitas? Masih ada jalan lain untuk mendapat keuntungan seperti mendatangkan sponsor yang bersedia memasang iklan secara built in melalui beraneka barang & aksesoris yang dipakai para pemeran, atau bisa juga dengan metode crowdfunding misalnya. Tentu juga dengan tak lelah mendorong pemerintah untuk memperbanyak jumlah bioskop & memberantas pembajakan. Kreatifitas & keberanian berinovasi, itu kuncinya. Selama 2 hal itu selalu diusahakan, jalan meraup profit akan selalu ada. Jadi, semoga keberanian Mira ini bisa menjadi teladan para produser lain untuk tak segan berinvestasi secara layak di film.

  1. Jagoan Festival

Rasanya jarang dimasa lalu film laga mendapat tempat di festival, apalagi festival internasional. Namun lihatlah fakta berikut:

The Raid meraih:

& beberapa penghargaan lain.

The Raid 2 meraih:

  • Best Movie Of The Year di Indonesian Choice Awards 2014
  • Official Selection(“Pilihan Resmi”) dalam Festival Film Sundance 2014
  • Official Selection(“Pilihan Resmi”) dalam Festival Film SXSW (South by Southwest) 2014

PTE meraih:

  • Pemeran anak & pemeran pendukung wanita terbaik di FFI 2015
  • Penata Musik Terpuji di festival Film bandung.

Sungguh fakta yang sangat menjanjikan akan kemajuan genre laga di masa depan!.. 🙂

 

SEBAIKNYA..

Mulai bangkitnya genre film laga seiring kebangkitan perfilman nasional sudah selayaknya kita apresiasi. Sebagai pemerintah, menghadang lajunya industri film bajakan & membuat peraturan yang mendorong lajunya perkembangan industri film nasional adalah sebuah hal yang wajib. Sebagai produsen, terus berinovasi dalam karya merupakan keharusan, sementara sebagai penonton, menonton di bioskop &/ membeli film resmi adalah bentuk dukungan yang sangat dinantikan. Peran kritikus pun penting dalam berbagi wawasan dengan para filmmaker demi perbaikan kualitas film di masa depan. Namun haruslah dijaga agar pisau kritik jangan sampai terlalu kejam menguliti film yang jelas tak ada satupun yang sempurna di dunia. Obyektif harus, namun konstruktif & pengertian yang mendalam atas situasi unik atas keadaan masyarakat & industri film nasional dalam segala aspeknya tetap harus dikedepankan. Seharusnyalah kritik ibarat bensin yang mampu mengobarkan nyala api semangat untuk berkarya dengan lebih baik, bukan seperti air yang malah memadamkan..

Sekian dulu pembaca, thanx 4 reading.. 🙂

 

Sumber:

wikipedia

filmindonesia.or.id

Produksi-film.blogspot.com

https://adhamology.wordpress.com