Editor Yang Jago Itu..

Editor yang jago itu ada tiga versi:

  1. Jago karena lihai mengoperasikan software editing
  2. Jago karena pandai membuat efek visual
  3. Jago karena bisa membuat penonton emosi

Kira-kira kamu lebih memilih yang mana?

Kalau jawabanmu itu nomor 1, itu bukan editor.. itu orang IT.

Kalau jawabanmu itu nomor 2, itu juga bukan editor.. itu orang grafis.

Kalau jawabanmu itu nomor 3..

.. nah itu yang akan kita bahas lebih panjang.

You know what.. ketiga versi itu sebenarnya bukan pilihan. Karena semua itu pasti dialami semua editor. Dengan kata lain.. itu adalah fase perjalanan seorang editor.

Begini maksudnya..

Ketika seseorang memutuskan untuk masuk ke dunia editing video, dia akan melewati fase pertama.. yaitu sebagai orang IT.

Maksudnya.. otaknya akan dipenuhi oleh shortcut, tools, plugins, sampai ngomongin spek editing. Pokoknya semua yang berbau komputer.. entah itu hardware maupun software.

Intinya.. dia berusaha untuk bisa mengoperasikan alat editing. Dan ketika dia sudah lihai.. dia merasa jago ngedit.

gue udah bisa ngedit

Selanjutnya dia mulai kelihatan seperti orang grafis. Mulai tertarik bagaimana melakukan cropping, masking, mencoba-coba transisi dan filter, color grading, dsb. Mulai resah dan gelisah dengan jenis huruf dan juga kombinasi warna. Template-template grafis, jenis-jenis brush, transisi video, dan berbagai tipe background dia kumpulkan..

..bahkan koleksi material grafisnya melebihi bahan video yang dia edit.

Pendorongnya bisa jadi karena dia melihat film-film Hollywood dengan banyak teknik green screen, motion capture, dll atau melihat program-program luar yang swipe kiri swipe kanan, background berubah-ubah, objeknya jadi kartun, picture in picture, tulisan melayang di mana-mana, dsb.

Ketika dia bisa melakukan itu.. dia bangga, harga dirinya naik dan merasa jago ngedit.

(Padahal yang berhasil dia buat seperti itu hanya beberapa detik pertama. Sisanya, dia sendiri gak berani nonton)

pake efek apaan tuh

Pada akhirnya.. lambat laun dia akan sadar bahwa semua itu percuma. Karena yang terpenting sekarang adalah..

penonton.

Yap.. itulah fase terakhir seorang editor: memperhatikan penonton.

Bukan soal alat dan bukan soal memperindah gambar, tapi bagaimana berinteraksi dengan penontonnya.

Bisa dibilang, di fase ini lah justru kita baru memulai belajar jadi editor. Serius!

Yang dimaksud ‘berinteraksi’ di situ bukan sebatas menyuruh penonton..

“Hey, tonton video saya ya! Jangan lupa share dan kasih like” (sambil berharap ratusan like datang)

Atau..

“Lagi coba-coba pake After Effects nih.. kasih nilai dong!” (sambil jantung dag dig dug dan berguman dalam hati..”please.. bilang wow”)

Tapi sebetulnya.. yang dimaksud berinteraksi dengan penonton adalah..

Bagaimana mengirim sebuah pesan kepada penonton.

Pesan di sini bukan pesan sembarangan.

Saya mengibaratkannya seperti voodoo (bahasa sini ‘santet’)..

 

..Kamu tusuk bonekanya di kaki, korbannya merasakan sesuatu di kaki. Kamu tusuk bonekanya di kepala, korbannya merasakan sesuatu di kepala.

Bagaimana kalau dia tidak merasakan apa-apa? Santetnya gagal.

dukun editor

Seperti itulah mengedit.

Editor yang jago.. akan menempatkan serangkaian gambar/shot yang itu bisa ‘berrasa’ di penonton.

Kalau tidak, editingnya gagal.

Itulah ‘pesan’ yang saya maksud.

Ok.. mungkin terkesan ribet. Tapi sederhananya begini..

Apa efek terbesar dari penonton ketika menonton sebuah film yang seru?

Dia tidak sabar menceritakan film yang ditontonnya kepada orang lain.

Ya kan?

Artinya dia merasakan sesuatu yang membuat dia gatal untuk menceritakan apa yang dirasakannya kepada teman-temannya.

Itu maksudnya ‘berrasa’.

Dalam bahasa sederhananya..

Film itu punya emosi.

Seolah tertawa, seolah menjerit, seolah tercekik, seolah memekik, seolah meminta pertolongan, seolah berjingkrak-jingkrak.

 

Itulah yang saya maksud dengan editor jago versi ke-3.. jago membuat penonton emosi.

Kalau dijabarkan dalam sebuah tayangan.. kira-kira begini:

  1. Di detik-detik pertama, dia berhasil membuat penonton penasaran, “ini pasti seru”
  2. Di pertengahan, dia mampu membuat penontonnya merasakan sensasi: tegang, bingung, terancam, atau terintimidasi.
  3. Di detik-detik terakhir, dia berhasil membuat penonton berada di puncak emosi: terkejut, menangis, atau termotivasi.
  4. Dan di akhir tayangan.. dia berhasil mendorong penontonnya membuat kesimpulan: this is owesome, great, gue banget, sadis, parah, anjrit, gila, dan.. “tii..t”

shutterstock_13785073_2(1)

Nah kira-kira hasil editingmu sudah seperti itu?

Kenyataannya memang tidak mudah. Karena butuh banyak jam terbang dan eksperimen.

Tapi setidaknya Kamu sepakat bahwa editing itu bukan soal alat atau pamer keindahan gambar. Tapi jauh di atas itu.

Kuncinya sekali lagi.. fokus pada penonton.

Sayangnya..

Ketika hasil editing ditonton, editor kadang berharap ada komentar..”Kok bisa sih, gimana cara ngeditnya? Ajarin dong!”

Alias memaksakan penonton supaya tahu bahwa itu hasil editing.

Kalau begitu urusannya.. sudah dipastikan kamu akan gagal.

Guys.. penonton itu orang awam.

(atau setidaknya.. anggaplah semua penonton itu orang awam, sekalipun penontonnya editor juga)

Dia tidak mengerti tentang software editing, tidak mengerti tentang proses editing, apalagi ‘memaksa’nya harus mengerti bahwa itu seperti film di Hollywood.. banyak efek, ada asap-asapnya (yang ditempel di editing), dan tone warnanya ‘kehijauan’ seperti film Transformers misalnya.

Penonton tidak peduli dengan semua itu.

Dia hanya ingin nonton, ingin terhibur, ingin fresh.

Gampang saja kalau penonton harus menilai apakah hasil editingnya baik atau buruk: Play atau stop.

Sama seperti menilai makanan enak dan tidak enak.. makan terus atau berhenti makan.

(sukur-sukur makanannya gak dibuang ke tempat sampah atau dikasih ke kucing)

Mengedit bukan seperti memilih hape buat dipake sendiri yang terserah kita mau model seperti apa, fiturnya seperti apa.

Coba pikirkan membelikan hape untuk orang tua. Apakah dia butuh dengan fitur-fitur yang kita suka? Belum tentu!

Masalahnya.. orang tua akan bingung ketika ditanya “Beh, mau hape yang kaya gimana.. pake Sony Experia Z yang anti air atau iPhone 6 dengan retina display?”

(Kalau orang tua saya akan bilang “Abah mah terserah ujang.. yang penting bisa maen Twitter kaya temen abah” :>)

Jadi..

Berikanlah emosi ke dalam videomu! Karena emosi adalah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua orang.

Saya tidak mengajak Kamu untuk jadi editor film, editor TV, atau editor iklan. Tapi kalau kamu bisa membuat tayangan sederhana.. katakanlah dokumentasi keluarga.. yang bisa membuat orang tuamu menangis.. kamu sudah sukses menjadi editor yang jago! (terlepas bagaimana cara kamu ngedit).

Sebagai penutup..

Saya membuat video ini sekitar 2 tahun yang lalu (mungkin ada yang pernah nonton). Bukan sebagai ajang pamer atau ngacak-ngacak video orang.. (tapi emang di situ kerennya editor.. bisa ngacak-ngacak :>), sekedar bereksperimen dengan yang namanya ’emosi’.

Semoga terhibur!

 

5 comments

Leave a Reply