Bahas Tuntas Perbedaan Frame Rate (24p/25p/30p/60p/…)

Saat kamu merekam video menggunakan DSLR, Mirrorless, atau Camcorder.. selain kamu harus menentukan resolusi (720p, 1080p, atau 4K), kamu juga harus menentukan frame rate atau fps (frame per second), seperti 24p, 30p, 60p, dst.

Nah, bagi pemula, memilih frame rate mungkin agak sedikit membingungkan. Misalnya muncul pertanyaan: bagus mana 24p atau 30p? Kapan harus memilih frame rate tinggi, seperti 60p atau 120p? Mengapa ada huruf ‘p’, dan ada juga huruf ‘i’ di belakang frame rate (25p, 50i, 30p, 60i)? Mengapa ada frame rate yang angkanya aneh: 29,97 atau 23,97?

Ada baiknya, supaya kamu tidak salah pilih frame rate, yuk kita bahas sedikit lebih dalam!

Banyaknya frame per detik

Video pada dasarnya tersusun dari foto atau gambar-diam (satuan gambar yang sebetulnya tidak bergerak) yang diganti-ganti setiap sepersekian detik. Saking cepatnya, maka otak kita sudah tidak bisa melihatnya sebagai gambar diam, tapi sudah menjadi gambar bergerak (moving picture atau movie).

Foto atau satuan gambar-diam tersebut disebut frame. Maka fps atau frame per second adalah banyaknya frame yang diputar setiap detiknya.

Itulah frame rate.

Seperti gambar kuda di bawah. Ada 12 gambar kuda dengan pose berbeda. Kalau gambar-gambar tersebut ditampilkan bergantian selama satu detik, dan diulang terus menerus, maka kuda tersebut tampak bergerak menjadi sebuah video.

Karena ada 12 gambar setiap detiknya, maka disebut frame ratenya 12 fps (12 gambar diputar setiap detik).

Semakin tinggi frame rate, gerakannya semakin halus

Seperti yang kamu lihat pada animasi di bawah yang membandingkan frame rate 15, 30, 60, dan 120 fps.

Mana yang paling halus gerakannya?

Pasti 120 fps. Karena semakin tinggi frame rate, semakin detil pula pose objek di setiap posisi. Sehingga kita melihat gerakannya semakin realistis.

Tapi apakah itu berarti kamu harus memilih frame rate paling tinggi?

Tunggu dulu. Baca sampai habis!

Standar film 24p

Dahulu para ahli sudah merumuskan bahwa otak kita sudah tidak bisa melihat gambar diam secara individual di atas 12 fps. Artinya, di atas 12 fps otak kita sudah mendefinisikan sebagai gambar bergerak (video).

Maka, saat industri film mulai booming kala itu, dibuatlah standar 24 fps.

Mengapa 24 fps, tidak lebih tinggi lagi? Karena frame rate semakin tinggi, membutuhkan film (seluloid) yang semakin banyak pula. Itu akan memakan biaya besar. Sedangkan 24 fps sudah merupakan angka yang ideal untuk movie (moving pictures).

Di era digital saat ini, frame rate memang bisa lebih tinggi dari 24 fps. Permasalahannya, kita sudah terlalu terbiasa melihat film dalam 24 fps dari dahulu. Ketika frame rate dibuat lebih tinggi dari itu, maka otak kita sudah tidak melihatnya seperti film.

Ini pernah terjadi di film The Hobbit: Desolation of Smaug di mana filmnya dibuat dalam frame rate tinggi, yaitu 48 fps. Dan banyak penonton justru mengkritiknya. Karena tidak enak ditonton.

Coba kamu tonton trailernya di bawah ini, tapi pastikan kamu setting quality-nya ke 720p60 atau 1080p60 (di pojok kanan bawah layar Youtube). Rasakan perbedaannya dibanding film pada umumnya.

Standar TV 25 fps dan 30 fps

Lain film, lain TV.

Kamu harus tahu bahwa TV mempunyai standar sendiri untuk frame rate, yaitu 25 fps atau 30 fps. Itu karena TV harus mengikuti satu di antara dua standar: PAL atau NTSC.

Mana saja yang kamu pilih tidak masalah. Tapi kalau mau mengikuti standar yang benar, untuk di Indonesia, kamu harus menggunakan 25 fps. Karena Indonesia menganut standar PAL, di mana frame rate nya 25 fps.

Lebih lanjut, baca Perbedaan PAL dan NTSC.

Nah, di sini kamu harus paham bahwa pada semua kamera terdapat dua setting-an ini (PAL & NTSC). Seharusnya, sebelum setting yang lain, setting-an ini harus ditentukan terlebih dahulu.

Mengapa?

Kalau kamu ingin frame ratenya 30 atau 60, kamu harus dalam mode NTSC. Karena kamu tidak akan menemukannya dalam mode PAL, karena PAL yang ada adalah 25 dan 50. Begitu pun sebaliknya.

25 atau 30, PAL atau NTSC tidak masalah mana saja yang kamu pilih, selama kamu tidak bertujuan untuk menayangkannya di TV. Sedangkan kalau tujuannya memang untuk TV, sebaiknya kamu patuhi aturannya. Gunakan PAL untuk TV di Indonesia, yaitu dengan frame rate 25p atau 50i (untuk i dalam 50i kita jelaskan nanti di bawah).

Kegunaan frame rate lebih tinggi dari 30 fps

Di atas 30 fps, di berbagai kamera kamu akan menemukan 50, 60, dan 120 fps (bahkan ada yang lebih tinggi lagi).

Kapan menggunakannya?

Ingat! Tadi di atas sudah diinformasikan bahwa standar film adalah 24 fps, dan standar TV adalah 25 fps atau 30 fps.

Dengan 24, 25, atau 30 fps kamu sudah cukup untuk membuat video dengan kualitas standar. Mata kita sudah nyaman menontonnya. Tidak perlu lebih tinggi dari itu.

Lalu untuk apa frame rate tinggi di atas standar itu?

Camkan bahwa untuk saat ini frame rate tinggi hanya dibutuhkan untuk:

  1. Game
  2. Slow motion

Game berbeda dengan film. Di film, kita mempertahankan kenikmatan menonton film. Frame rate terlalu tinggi, maka sudah bukan film lagi (ingat kasus The Hobbit tadi).

Sedangkan game kebalikannya. Game semakin realistis, semakin kita menikmatinya. Maka itu game selalu diusahakan berada dalam frame rate tinggi.

Kalaupun kamu mau menggunakan frame rate tinggi (50, 60, 120) untuk syuting, maka pastikan tujuannya hanya untuk slow motion.

Karena begini..

Di editing, kalau kamu melambatkan video 50% lebih lambat pada frame rate 30 fps, maka frame rate menjadi 15 fps (setengahnya). Karena itu, gerakan objek akan terlihat kurang halus (patah-patah).

Maka supaya gerakannya halus, kamu harus merekamnya dalam 60 fps. Karena ketika dilambatkan 50%, maka frame rate nya menjadi 30 fps. Gerakannya akan tetap halus.

Kalau kamu ingin lebih lambat lagi dan tetap halus, maka kamu harus merekamnya dalam frame rate lebih tinggi lagi.

Tentunya harus didukung oleh kamera yang mampu melakukan itu.

Arti ‘p’ dan ‘i’ dalam frame rate

Huruf ‘p’ dalam 25p, 30p, dst artinya progressive. Sedangkan kalau kamu menemukan ‘i’ seperti 50i atau 60i, artinya interlace.

Progressive dan interlace adalah dua cara video ditayangkan di monitor.

Progressive artinya setiap baris pixel akan ditampilkan berurutan (1,2,3,dst). Sedangkan interlace artinya setiap baris akan ditampilkan bergantian antara baris ganjil dan genap.

Bagian pentingnya adalah: Kamu tidak memerlukan frame rate dalam interlace, kecuali untuk TV analog.

Sedangkan hampir semua video sekarang tayang secara digital, yang sifatnya progressive.

Dan ingat.. 50i bukanlah 50 fps, dan 60i bukanlah 60 fps.

Dalam interlace, setiap frame ditampilkan dalam dua tahap (ganjil dan genap). Karena itu setiap frame tampak menjadi 2x nya. Artinya, 60i adalah 30 fps, dan 50i adalah 25 fps.

Kalau kamu penasaran, baca lebih lanjut perbedaan interlace dan progressive.

Mengapa ada frame rate 29,97 fps dan 23,97 fps?

Di kamera, frame rate ini tidak ada.

Tapi kalau kamu sering download video dari internet (terutama TV series dari luar sana), mungkin kamu akan menemukan frame rate aneh ini: 29,97 fps atau 23, 976 fps.

Mengapa bisa begitu?

Jawabannya sangat rumit. Karena melibatkan pengetahuan teknis tentang cara TV analog bekerja (tonton saja video di bawah kalau mau lebih detil).

Tapi pada intinya, ini hanya terjadi pada video yang pernah ditayangkan di TV berbasis NTSC.

NTSC menggunakan basis 30 fps. Tapi saat disiarkan melalui frekuensi, frame rate itu harus dikurangi 0,1% untuk menghindari interferensi (tabrakan frekuensi) antara gambar, suara, dan warna. Maka secara efektif, frame ratenya menjadi 29,97 fps.

Ini juga terjadi pada film yang kemudian ditayangkan di TV. Film yang 24 fps, juga harus dikurangi 0,1%, sehingga frame ratenya menjadi 23,97 fps.

Karena kamu mendownload tayangan-tayangan itu setelah konversi (artinya setelah mereka tayang), maka frame rate nya tetap seperti itu.

Kesimpulannya

Jadi mana frame rate yang harus dipilih? Seharusnya kamu sudah paham.

Normalnya, pilih lah di antara 3: 24, 25, atau 30 fps. Perbedaan di antara ke tiganya tidak berbeda secara signifikan. Itu hanya masalah selera dan standar di masing-masing wilayah.

Kalau mau bergaya cinematic, gunakan 24 fps. Setidaknya itu mendekati kebiasaan film.

Kalau mau mengikuti standar broadcast di Indonesia dan Asia, gunakan 25 fps (standar PAL). Sedangkan 30 fps, itu kebiasaan mengikuti gaya barat, di negara berbasis NTSC (Amerika dan sekitarnya).

Kecuali kalau kamu merencanakan slow motion di editing, gunakan 50, 60, atau 120 fps.

Namun satu hal lagi yang harus diperhatikan: Konsekuensi menggunakan frame rate tinggi di editing, menyebabkan mesin editing semakin berat. Jadi bijak-bijak lah menggunakan frame rate tinggi. Tidak harus kamu merekam semua footage dalam frame rate tinggi (ketika dibutuhkan saja).

 

Leave a Reply