Apa Itu Bitrate Dan Apa Pengaruhnya Pada Kualitas Video

Kalau kamu menggunakan Adobe Premiere Pro dan melakukan export ke H.264, di paling bawah terdapat Bitrate Settings. Di software editing lain pun (dan juga pada software converter) biasanya terdapat setting-an ini.

Setting-an ini hampir tidak pernah tersentuh. Biasanya kita biarkan begitu saja.

Tapi, adakah pengaruhnya kalau kita ubah-ubah nilainya?

Ya, itu berpengaruh pada:

  1. Kualitas video
  2. Ukuran file video

Screenshot_8_28_16__08_18

Memang yang paling aman adalah kita tidak usah menyentuhnya, alias biarkan aja sesuai preset-nya. Tapi, pada kasus-kasus tertentu kita bisa memainkannya. Misalnya, kita bisa menurunkan ukuran file agar bisa dikirim via email untuk preview klien.

Di artikel ini kita akan bahas apa itu bitrate, apa pengaruhnya, apa itu CBR, VBR 1-pass, dan VBR 2-pass.

Mari kita mulai.

Apa itu bitrate?

Semua media yang berbasis data digital pada prinsipnya hanyalah kumpulan bit (unit terkecil dari semua data di dalam komputer). Kumpulan bit inilah yang menjadikan kita bisa melihat gambar, suara, teks, video…di PC, internet, smartphone, atau media digital lainnya.

Bit itu sendiri cuma punya dua nilai: 1 atau 0. Tapi dari 1 dan 0 ini, komputer bisa menyusunnya menjadi apa pun.. dan menampilkannya di layar.

Contoh sederhana.. ketika sebuah foto ditampilkan, pada dasarnya komputer hanya merekonstruksi susunan bit (yang sudah dibuat oleh kamera digital atau scanner) ke layar.

Memang kita melihatnya seolah-olah instan (tanpa jeda). Seakan-akan gambar itu sudah ada di sana. Tapi sebenarnya, PC membutuhkan waktu untuk merekonstruksinya. Hanya saja saking cepatnya, mata kita tidak mampu melihat prosesnya.

(Bukankah ketika kamu membuka halaman web dengan banyak gambar saat internet kamu lambat butuh waktu?)

Sekarang bayangkan…video itu adalah kumpulan gambar (frame) yang berganti-ganti setiap sepersekian detik (ingat frame rate). Otomatis, sekumpulan bit akan terus diproses selama video itu diputar.

Jadi sederhananya bitrate adalah:

Banyaknya bit yang diproses setiap detik oleh sebuah file video ketika video itu diputar.

Biasanya satuannya kilobit per detik (Kbps) atau megabit per detik (Mbps).

Tabel di bawah adalah contoh bitrate yang direkomendasikan oleh Youtube.

Screenshot_8_28_16__08_39

Untuk melihat bitrate, kamu bisa memutarnya di player (VLC, MPC, QuickTime Player, dll) dan lihat properties-nya.

Screenshot_8_29_16__06_44

Pengaruh bitrate terhadap kualitas dan ukuran file

Kita ambil contoh format 720p.

Dalam tabel di atas, kamu bisa lihat bahwa format 720p (1280 x 720 piksel), Youtube merekomendasikan bitrate 5 Mbps.

Apa akibatnya kalau nilainya kita set lebih rendah dari itu dan lebih tinggi dari itu?

Gambar di bawah adalah perbandingan 3 hasil export yang saya lakukan terhadap file DSLR 720p (25 fps) dengan 3 bitrate yang berbeda: 1 Mbps, 5 Mbps, dan 10 Mbps.

bitrate compare

Bisa kamu lihat bahwa bitrate 1 Mbps untuk 720p kualitasnya sangat buruk. Sementara 5 Mbps dan 10 Mbps hampir tidak terlihat bedanya.

Maka kita bisa mengambil kesimpulan bahwa 5 Mbps adalah nilai yang cukup untuk mengeksport 720p dengan kualitas yang baik.

Lalu perhatikan ukuran file ketiganya (durasi yang saya pakai hanya 10 detik-an).

Semakin tinggi bitrate, semakin besar juga file-nya.

Screenshot_8_28_16__10_09

Perlukan mengatur bitrate secara manual?

Contoh yang saya lakukan di atas adalah mengatur bitrate secara manual di Premiere, dengan menggeser slider pada bitrate settings.

Screenshot_8_28_16__23_26-2

Apakah pengaturan bitrate manual ini diperlukan?

Tergantung situasinya. Tapi, kebanyakan tidak perlu.

Premiere sendiri (dan software-software editing pada umumnya) sudah menyediakan preset untuk berbagai keperluan: Youtube, Vimeo, Android, iPhone, dll yang nilai bitrate-nya sudah disesuaikan.

Coba kamu perhatikan kalau kamu mengganti-ganti presetnya.. Kamu akan lihat nilai bitrate-nya berbeda-beda.

Ini dikarenakan kemampuan setiap alat (device) berbeda-beda dalam memutar video. Ada yang mampu mengoperasikannya dalam bitrate tinggi, ada juga yang tidak.

Atas dasar itulah preset-preset itu dibuat.

Screenshot_8_28_16__10_52

Jadi.. untuk amannya, sebaiknya kamu tetap menggunakan preset.

(Saya lebih banyak menggunakan preset “Youtube 720p HD” untuk editing yang umum dari DSLR, karena preset ini yang paling aman untuk bisa diputar di device apa pun.. Sekalipun tidak untuk upload ke Youtube)

Tapi Kalau Kamu mau mengaturnya secara manual, ingat konsekuensinya:

  • Mengubah bitrate tidak akan memperbaiki kualitas video yang awalnya sudah buruk
  • Menaikkan bitrate akan memperbesar file
  • Menaikkan bitrate harus memperhatikan alat pemutarnya, mampu atau tidak
  • Menurunkan bitrate bisa memperkecil file, tapi kualitas akan turun

Saya biasa mengubah bitrate hanya untuk menurunkan besarnya file hasil edit untuk dikirim ke klien, sebelum finalnya saya kirim. Karena itu akan menghemat kuota, dan.. menahan resolusi tingginya (sampai bayarannya cair :>).

lgmuuuqkqz0nwm4rgddq

Bitrate konstan vs bitrate berubah-ubah

Ada dua jenis setting-an bitrate:

  1. CBR (Constant bitrate)
  2. VBR (Variable bitrate)

Screenshot_8_28_16__10_55

Apa bedanya?

Kata “constant” pada CBR artinya bahwa sepanjang video itu diputar, bitrate nya selalu konstan. Tidak peduli apakah gambar yang sedang tampil itu hitam seluruhnya atau menampilkan gambar yang kompleks (seperti keramaian orang), bitrate nya tidak berubah.

Sedangkan “variable” pada VBR artinya sepanjang video itu diputar, bitrate nya akan berubah-ubah tergantung kondisi gambarnya. Pada gambar sederhana, bitrate nya akan rendah, tapi pada gambar yang kompleks, bitrate nya akan tinggi.

Maka setting-an bitrate pada CBR dan VBR akan berbeda. Pada VBR kamu harus menentukan target bitrate dan maximum bitrate, karena nilainya akan bervariasi di antara dua nilai itu ketika videonya diputar.

Screenshot_8_28_16__20_51

Mana yang lebih baik: CBR atau VBR?

Untuk situasi yang umum, VBR lebih baik. Karena video itu akan menyesuaikan bitrate dengan kondisi gambarnya. Kualitasnya bisa dipertahankan sepanjang video dan filenya akan relatif lebih kecil dibanding CBR. Karena tidak perlu memboroskan bit ketika gambarnya sederhana (misalnya layar hitam saat fade in fade out).

Sedangkan kalau kamu menggunakan CBR.. gambar-gambar yang terlalu kompleks kualitasnya akan turun dibanding gambar yang sederhana, karena dia harus mempertahankan bitrate.

Jadi bisa dibilang: dalam CBR, bitrate itu semacam budget. Kamu harus cukup dengan ‘budget bit’ sekian.

CBR diperlukan pada situasi khusus di mana kelancaran penayangan paling utama.

Broadcast tayangan televisi contohnya. Tayangan televisi mengutamakan lancarnya tranmisi. Karena itu bitrate dibuat konstan, karena tidak mau mengambil resiko bitrate meninggi yang menyebabkan tayangan terganggu karena pemancarnya tidak kuat menerima sinyalnya.

Maka pada kamera-kamera broadcast, biasanya format-format videonya berupa CBR.

VBR 1-Pass dan VBR 2-Pass

Ada dua jenis VBR: 1-Pass dan 2-Pass.

Perbedaan utamanya terletak pada proses encodingnya. Sederhananya, 1-pass hanya sekali jalan, sedangkan 2-pass dua kali jalan.

Maksudnya 2 kali jalan.. pertama, Premiere akan menganalisa seluruh frame untuk memutuskan berapa nilai bitrate yang cocok untuk setiap frame. Kedua, baru lah dia melakukan encoding (export).

Maka meng-export dengan 2-pass, waktunya akan lebih lama dari 1-pass.

Apakah 2-pass lebih menghasilkan kualitas yang lebih baik dari 1-pass masih debatable.

Beberapa menyebut 2-pass lebih baik.. karena sudah dianalisa terlebih dahulu. Sehingga setiap gambar akan diberi nilai bitrate yang pas tanpa harus memboroskan bit secara keseluruhan.

Kesimpulan

Mengetahui bitrate itu penting, karena itu berkaitan dengan kualitas video.

Walaupun pada akhirnya lebih aman menggunakan preset.. Setidaknya, kamu tahu mengapa sebuah preset menggunakan bitrate tertentu.

Terutama untuk streaming, menyesuaikan bitrate dengan kecepatan internet sangat krusial untuk menghindari ‘buffering’.

Kamu bisa membuka link ini untuk melihat rekomendasi Youtube sebagai panduan untuk file video yang akan kamu upload.

Semoga bermanfaat!

 

9 comments

Leave a Reply