Adobe Premiere Pro Resmi vs Bajakan: Apa Untungnya Berlisensi?

Premiere asli vs bajakan sebenarnya sama saja,

…buat yang belum pernah pake asli :p

Karena mereka menganggap pake bajakan selama ini tidak ada masalah. Semua fitur berjalan normal kok! Jadi hampir tidak ada alasan untuk membeli lisensi Adobe Premiere, yang harganya cukup mahal.

Karena itu di artikel ini kita bahas sebenarnya bedanya di mana.

Singkatnya dulu..

Premiere berlisensi dan yang bajakan bedanya bukan fitur yang ada di Premiere nya. Tapi bedanya ada di fasilitas dari Adobe nya.

Tapi disclaimer dulu:

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menghakimi pengguna bajakan. Soal “halal-haram”nya pake bajakan itu kembali ke “mazhab” masing-masing. Dan faktanya, saya tidak menafikkan bahwa perusahaan media besar seperti TV atau PH pun mungkin masih ada yang pake bajakan.

Tapi ini hanyalah review selama saya menggunakan Adobe Premiere resmi, yang didapat secara resmi, dan mendapat fasilitas full dari Adobe resmi. Untuk sekedar memberi gambaran apa keuntungannya, dan apakah “worth it” atau tidak.

Oke, saya kasih screenshotnya dulu email dari Adobe ketika saya sudah resmi “berlangganan”.

Jadi saya harus membayar Rp. 269.800 setiap bulan untuk menggunakan semua produk Adobe.

Mungkin di antara teman-teman ada yang bilang ini mahal, ada yang bilang ini murah. Yang pasti ini harus dibayar setiap bulan selama saya pakai. Karena di Adobe sistemnya berlangganan (subscription).

Tapi saya harap jangan dulu menilai sebelum membaca seluruh artikel ini.

Oya, harga segini bukan hanya untuk Adobe Premiere ya. Karena saya memilih berlangganan untuk All Apps. Jadi saya bisa pakai semua aplikasi Adobe (Premiere, After Effects, Photoshop, Illustrator, dll).

Dan kalau kamu pilih All Apps, kamu akan kaget bahwa ternyata produknya Adobe itu buannnnyak banget. Dari mulai aplikasi untuk video, foto, ilustrasi, web, dokumen, beberapa aplikasi mobile (smartphone), sampai ada aplikasi untuk membuat portfolio karya. Jadi sebanding dengan banyaknya produk Google. Bedanya, Adobe lebih untuk kalangan profesional.

Walau begitu, kamu tetap bisa juga membeli satuan, misalnya hanya untuk Adobe Premiere nya saja. Tapi harganya jauh lebih mahal dibanding membayar untuk All Apps.

Oya satu rahasia lagi…

Harga asli All Apps (untuk perorangan) sebenarnya Rp. 715.100 per bulan. Kenapa jadi murah (Rp. 269.800)? Karena saya mengikuti program untuk student & teacher yang diskon 60%.

Untuk cara pembelian dan cara mendapatkan diskon itu saya akan jelaskan di artikel lain.

Oke, langsung saja… ini keuntungan beli Adobe Premiere (atau Adobe secara umum) berlisensi yang bisa jadi pertimbangan untuk kamu “hijrah” dari bajakan.

1- Tidak repot install, update terus

Ini yang jadi masalah ketika kamu musti nyari “mentahan gratisan” Premiere (bajakan):

  • Link bajakan sudah susah didapat (sudah diblokir atau sudah tidak aktif)
  • Mau download… iklan lagi, iklan lagi yang kebuka
  • Bajakan yang ada belum tentu versi yang kamu butuhkan (butuhnya Premiere Pro CC 2020 adanya Premiere Pro CC 2014)
  • Nge-crack nya ribet, salah-salah kena blokir Adobe, akhirnya install ulang lagi
  • Dari dulu versinya itu-itu saja, karena males cari bajakan lain lagi yang belum tentu valid

Sedangkan keuntungan menggunakan Adobe resmi adalah:

Kamu terdaftar secara resmi di akun Adobe (melalui email dan password). Ketika kamu akan install, kamu tinggal menginstall satu aplikasi, yaitu Adobe Creative Cloud. Lalu login menggunakan akun yang sudah terdaftar itu.

Sisanya, semua aplikasi akan bisa dikontrol pake satu aplikasi itu. Install tinggal tekan tombol install, update tinggal tekan tombol update.

Bahkan perhatikan di screenshot di bawah, saya bisa menginstall beberapa versi Adobe Premiere Pro sekaligus.

Memang Adobe resmi tidak ada ‘mentahan’ dalam bentuk file installer seperti bajakan. Kamu harus online untuk menginstallnya. Bisa jadi itu kekurangan, bisa juga kelebihan. Kelebihannya, kamu bisa install di mana pun selama ada internet dan punya akun Adobe resmi.

Dan keuntungannya pula.. karena resmi, saya bisa update terus software nya. Saya bisa langsung merasakan fitur-fitur terbarunya Premiere. Sedangkan bajakan, entah kapan keluar bajakan terbarunya.

2 – Dapat 100 GB penyimpanan online (Cloud)

Kalau kamu beli lisensi Adobe, otomatis kamu dapat 100 GB penyimpanan online di Adobe. Itu sama seperti Google Drive.

100 GB lumayan besar. Bandingkan dengan Google Drive versi gratis yang hanya 15 GB.

Informasi storage di Adobe Creative Cloud

Apa untungnya mempunyai cloud storage?

Misalnya saya mengerjakan satu project editing di PC kantor saya dan belum selesai. Ketika saya WFH (Work From Home), saya bisa melanjutkannya di rumah menggunakan laptop, karena Premiere di laptop saya juga terhubung dengan akun Adobe yang sama, dan sinkron dengan project yang saya simpan di Cloud nya Adobe.

Memang, itu pun bisa dilakukan menggunakan Google Drive. Tapi ada yang tidak bisa dilakukan di Google Drive, yaitu Library.

3 – Menyimpan template di Library Adobe

Menyimpan di library berbeda dengan menyimpan file biasa di Cloud (walaupun dua-duanya sama-sama menggunakan Cloud Storage).

Ketika kamu menyimpan gambar, logo, atau apapun di Library… secara otomatis file-file itu akan bisa diakses di semua produk Adobe (Premiere, Photoshop, After Effects, dll) melalui panel Library. Jadi tidak harus repot-repot membuka eksplorer dan mengimportnya secara manual.

Ini contoh file yang tersimpan di LIbrary melalui aplikasi Creative Cloud.

Library di Creative Cloud

Ini contoh ketika saya mengaksesnya melalui panel Libraries nya Premiere.

Panel library Premiere Pro yang sinkron dengan akun Adobe

Ini contoh ketika saya mengaksesnya melalui panel Libraries nya Photoshop.

Library di Photoshop yang sinkron dengan akun Adobe

Dan ketika saya menambah gambar di library di produk Adobe mana pun, semuanya akan sinkron dan bisa dibuka di semua produk Adobe.

4 – Mencari Plugin Efek

Mungkin selama ini kamu mencari plugin dengan cara googling, download dari website, lalu install secara manual.

Nah, di aplikasi Creative Cloud, kamu bisa cari plugin yang dibutuhkan. Seperti transisi, efek, atau plugin lain yang berguna yang bisa kamu install di Premiere (atau aplikasi Adobe lainnya).

Contoh, di bawah saya menginstall efek transisi dari Film Impact.

Market place untuk mencari plugins

Secara otomatis, transisi itu sekarang sudah ada di panel Effects nya Premiere.

Transisi ini didapat dari market place Adobe

Dan plugin yang tergabung di Market Place nya Adobe ini ada ribuan. Kamu bisa cari apa pun.

Memang banyak dari plugin-plugin ini yang berbayar. Tapi banyak juga yang free.

5 – Mencari Font

Sama seperti plugin, selama ini kamu mencari font dengan cara googling, download, lalu install manual.

Sekarang kamu bisa mencarinya secara online melalui Creative Cloud atau di Premiere nya langsung.

Di Premiere bisa melalui menu Graphics > Add Fonts from Adobe Fonts. Pilih font nya, install (activate), dan secara otomatis font itu sudah bisa digunakan di semua aplikasinya Adobe.

6 – Mencari gambar (footage)

Kalau kamu tahu ShutterStock, market place untuk mencari footage (foto, grafis, video, musik), Adobe juga punya Adobe Stock.

Selama kamu online, kamu bisa buka panel Libraries di Premiere, dan tinggal kamu cari di kolom Search. Setelah ketemu gambar yang kamu butuhkan, tinggal drag ke timeline.

Sayangnya, seperti ShutterStock, footage di Adobe Stock juga hampir tidak ada yang gratis. Kamu harus membeli lisensi untuk setiap gambar yang kamu pakai.

Tapi seandainya kamu mempunyai project untuk perusahaan besar yang rela membayar untuk setiap footage yang dipakai, cara ini bisa efektif:

Kamu tetap bisa menggunakan secara bebas semua footage (tinggal cari dan drag dari libraries), tapi dalam bentuk preview (masih ada watermark nya). Perlihatkan ke klien hasil editnya, kalau belum cocok, tinggal ganti footage-nya (masih ada watermark nya). Setelah klien cocok, barulah dihitung berapa biaya untuk menggunakan footage-footage itu (dengan mengklik buy lisence image).

7 – Premiere, Photoshop, After Effects, dan Illustrator saling terintegrasi

Untuk editor multitasking seperti saya, satu project editing tidak bisa hanya mengandalkan Premiere saja. Sering saya mendapatkan project yang mengharuskan saya juga menggunakan After Effects untuk membuat animasi atau motion graphic. Dan juga Photoshop dan Illustrator untuk membuat objek-objek grafis (sebelum dianimasikan). Semuanya dijahit terakhir di Premiere.

Beruntung bagi pengguna Adobe, semua software Adobe bisa terintegrasi melalui yang namanya Dynamic Link. Jadi project Photoshop (*.psd) bisa masuk ke After Effects langsung tanpa diexport terlebih dahulu menjadi PNG atau JPG. Begitupun poject After Effects bisa masuk di timeline nya Premiere.

Ketika saya ada revisi dari klien, katakanlah mengubah warna salah satu grafis, saya tinggal membuka file Photoshopnya, lalu edit, dan sim salabim… perubahannya langsung update di After Effects dan Premiere.

Ini mempercepat pekerjaan, daripada harus secara manual (revisi, export lagi, import lagi).

Sayangnya…

Ini bisa dilakukan hanya jika semua software itu (Premiere, After Effect, Photoshop, dan Illustrator) ada dalam satu versi. Dan itu sulit didapat kalau kamu pakai bajakan.


Kesimpulan

Dari uraian di atas apakah menurutmu membeli lisensi Adobe itu “worth it”?

Mungkin bagi yang editing sekedar hobi, sekedar ngedit sederhana (cuma motong dan nyusun video), atau yang baru belajar… gak begitu worth it.

Tapi buat yang mendedikasikan pekerjaannya pada dunia edit mengedit video, dan menghasilkan uang dari sana, tidak ada salahnya “menghalalkan” Premiere dan produk Adobe lainnya.

Logika sederhananya:

Editor profesional tidak sekedar menjual skill, tapi juga harus memikirkan investasi alat. Banyak kesalahan pemula yang terjun ke pekerjaan editing video hanya menjual skill, sementara alat yang dia gunakan tidak ‘dihargakan’. Dengan ‘menghargakan’ alatnya, bahwa ada harga untuk alatnya sendiri (tentunya benar-benar membeli resmi), mungkin harga kamu sebagai editor lebih dari yang seharusnya.

 

Leave a Reply